Goodbye Ayah ( Cerpen )

Standard

“ Tut,tut,tut.” Bunyi satu pesan dari Hp ku, tangan ku segera meraih HP yang kusimpan dalam saku celana. Kudapati satu pesan dari kakak sepupuku “ Dik nanti selesai kuliah tolong sempatin pulang ya Bapak ingin ketemu sama kamu.” Sontak seluruh aliran darah ini mengalir ke seluruh urat nadiku.

 Aku membalas sms kakak sepupuku “ Bapak kenapa mas??.” 

“ nggak apa-apa, sempetin pulang ya!”

“ aku pulanganya jam 2 an mas, ini ada kuliah tambahan, nggak apa kah?”

“ nggak apa-apa yang penting kamu pulang.”

Perasaan tak enak merasuk dalam dadaku, beribu tanya hinggap dalam kepalaku apa yang terjadi sama Bapak? Apa Bapak kritis.? Dengan penuh harap aku berdoa semoga semua baik-baik saja, mungkin Bapak hanya kangen sama aku jadi Bapak ingin aku pulang.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menguatkan hati dan mengisi pikiran dengan pikiran yang positif, aku mencari Hp ku kembali untuk meminta izin sama Leader tempat dimana aku bekerja dan biasa aku panggil Mamy.

“ Hallo, Mamy.”

“ Iya Lia, ada apa sayang” demikian Mamy menjawab sapaku.

“ Mam Lia mau izin Mam, hari ini Lia nggak bisa masuk kerja barusan dapat kabar kalau Bapak sakit jadi Lia harus pulang Mam, maaf Mam nggak apa-apa kan? “

“ Berapa lama sayang, sekarang Lia dimana?”

“ Berapa lamanya belum tau Mam, tapi Lia usahkan secepatnya balik lagi ke kantor, ini sekarang Lia masi di kampus.”

“ Oh gitu, terus kapan mau pulang?”

“ Habis kuliah Mam, ini ada kuliah tambahan soalnya.”

“ Oh ya sudah nggak apa-apa, hati-hati dijalan ya Lia salam buat Bapak sama Ibu, semoga Bapak cepat sembuh”

“ Iya Mamy terima kasih.”

Aku beranjak ke Lab 1 kalau jam kosong gini biasanya dimanfaatkan anak-anak untuk sekadar menjelajahi dunia maya dengan memakai Wifi gratis di kampus, sambil nunggu dosen datang mungkin aku bisa sejenak menghilangkan kebimbangan yang tadi menyelimuti hatiku, apa lagi disana juga ada teman-teman.

Tepat jam 12 Hp ku kembali berdering kali ini deringan Hp ku seperti tak sabar ingin aku segera mengangkat telepon. Aku mendapati panggilan dari kakak sepupuku lagi, dadaku semakin sesak aliran darahku semakin memuncak naik ke urat sarafku.

“ Hallo Mas, kenapa?”

“ Dik, kamu pulang sekarang aja ya, Bapak kritis pengen baget ketemu sama kamu, kamu izin aja kuliahnya ya”

Aku sudah tak bisa mengelak dan berkata panjang “ iya mas aku pulang sekarang.”

Perlahan mataku terasa perih untuk menahan air mata, aku pun tak mengindahkan pertanyaan teman-teman yang terheran dengan perubahan raut wajahku, aku juga tak perduli walau Dosen yang dari tadi aku tunggu ada di depan mataku sekarang, yang jelas aku ingin segera lari dari sini.

“  Pak maaf saya mau izin hari ini saya nggak bisa ikut mata kuliah Bapak” aku membuka suara untuk meminta izin ke Dosen.

“ Loh, kenapa? Kita baru aja mau masuk”

“ Iya pak maaf, tapi saya harus segera pulang, barusan dapat kabar Bapak saya sedang kritis jadi saya harus pulang pak”

“ Oh gitu, ya sudah kamu hati-hati  dijalan ya”

“ Iya pak terima kasih.”

Aku lalu mengahampiri sahabatku jaya.” Jay tolong anterin aku ke terminal sebentar aku mau pulang ”

“ Haah pulang, sekarang?? Kan Dosennya uda datang?!”

“ aku uda izin jay, Bapak kritis aku harus pulang sekarang’

“ Ok,ok aku ambil motor bentar, tunggu disini ya.”

Tak lama kemudian jaya temanku sudah berdiri di depanku dengan motor andalan yang selama ini menemani perjalanannya. Tak mau membuang waktu aku langsung melesat naik bus, kurang lebih lima jam aku akan memempuh perjalanan, selama dalam perjalanan lagi-lagi hatiku kalut aku berusaha untuk tidak berfikir macam-macam aku berusaha keras untuk memenuhi pikiranku dengan pikiran yang positif, mencoba membuka memori lama tentang kebersamaanku dengan Bapak saat aku masih kecil sampai, saat Bapak memberikan nasehat-nasehat bagaimana untuk menghadapi hidup yang membolak-balikkan perasaan kita bahkan iman kita, sampai saat aku berpamitan dan mencium tangan Bapak satu bulan yang lalu.

Sekian lama aku mempuh perjalanan akhirnya aku sampai diterminal, dari kejauhan aku melihat paman  laki-laki paruh baya ini ternyata sudah menungguku dari tadi menunggu kedatanganku, aku langsung menghampiri beliau.

“ Kok lama nduk? Tanya paman

“ Iya paman tadi jalanan macet banget” jawabku

Hari sudah mulai gelap, gema adzan maghrib mengiringi perjalanku dengan paman menuju rumah, selama perjalanan Paman tak magatakan apa-apa sepertiya Paman tak ingin menambah kecemasan yang dari tadi mengganggu hatiku.

Tak berapa lam kemudian aku sampai dirumah, kedatanganku disambut oleh Bibi, aku segera turun dari motor dan terus melangkah aku sudah tak sabar ingin mencium tangan Bapak dan berbincang dengannya seperti yang dulu selalu aku lakukan saat pulang kampung aku pasti meyempatkan diri untuk berbincang dengan Bapak sekedar bercerita tentang keadaanku dikota orang. Namun tak tau kenapa kali ini langkahku terasa berat saat kaki ini memasuki kamar, disana sudah ada Ibu dan Bude yang meneteskan air mata aku masih berharap tak terjadi apa-apa, namun harapanku seketika lenyap saat aku melihat Bapak sudah terbujur tak bernyawa.

“ Nduk Bapak uda nggak ada” Ibu menjawab pertanyaan yang dari tadi hinggap dalam kepalaku. Dengan penuh susah payah aku mengucapkan sesuatu “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” tangisku pecah, lolongan panjang menyayat hati. Bude segera memelukku. Aku menagis dan berteriak  histeris memanggil nama Bapak lalu menggemparkan seluruh rumah dan menyita perhatian semua tetangga. Aku tak percaya kalau aku akan kehilangan Bapak secepat ini tepat 7 Mei 2013 Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.

Tak berapa lama rumahku sudah dikerumunin orang, sedangkan keadaanku kacau balau semua orang iba dengan keadaanku satu dari mereka memberikan aku segelas air.

“ yang sabar nduk doakan Bapak ya”. Bude berusaha menenangkakku, sementara ibu dengan sekuat tenaga masih berada disamping Bapak, aku menghampiri jenazah Bapak dan meraih tangannya lalu mencium tangan Bapak ini adalah terakhir kalinya aku mencium tangan Bapak, sedih, sesal mulai menyelinap dalam hati seolah menambah panjang luka sayatan oleh perginya Bapak. Aku amat menyesal di detik-detik terakhir aku tak berada disamping Bapak. aku mulai berandai-andai, andaikan tadi aku langsung pulang saat kakak sepupuku memberikan kabar itu bahwa Bapak sudah ingin sekali bertemu denganku mungkin aku masih bisa menuntun Bapak ketika kematian menjemputnya, tapi tak ada gunanya semua sudah terjadi andai-andaiku ini tak akan membalikkan keadaan. Aku segera mengambil air wudlu saat aku teringat aku belum menuaikan sholat maghrib mungki dengan aku mengadukan kesedihanku bisa memimalisir sayatan hati.

Dengan suara gemetar dan berderai airmata aku melantunkan ayat-ayat suci disamping persemayaman Bapak, hanya ini yang bisa aku berikan untuk Bapak sebagai wujud baktiku. Bapak yang mengajariku tentang kesabaran, selalu ingin aku menjadi anak yang Qona’ah terus mensyukuri  atas apa yang diberikan Tuhan, terus berusaha untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan, namun satu yang tidak Bapak ajarkan bagaimana cara manahan rinduku untuknya? Tanyaku menuntut, raga bapak memang telah pergi namun kenangan bersama beliau telah berkarang dihati, kini hanya untaian doa yang bisa aku persembahkan untuk bapak dalam setiap hamparan sajadahku.

 

 Gambar

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s