Sepenggal Skenario 2013

Standard

Warna-warni kembang api menghiasi langit ditambah gemuruh suara letusannya menambah indah suasana tahun baru walau diselimuti hujan rintik-rintik namun tak menyurutkan semarak malam pergantian tahun, yaa! dimalam tahun baru semua orang menyambut dengan suka cita berbagai resolusi hidup sudah disiapkan untuk menyongsong tahun  baru, demikian juga aku, aku menaruh harapan agar ditahun baru ini kebahagiaan bisa aku rengkuh satu-persatu. Ditengah  gemuruhnya suasana pergantian tahun ini aku memandangi langit, aku mencoba membuka satu-persatu halaman dari cerita hidupku sepanjang tahun 2013 yang baru saja usai, dari halaman memori yang aku buka tahun 2013 banyak hal yang membuat aku meneteskan air mata dan menguras habis kesabaranku. O iya  ada pepatah yang bilang tak kenal maka tak saying sebelum aku bercerita alangkah baiknya kalau aku memperkenalkan diri, namaku Aulia akubaru saja menyelesaikankuliah  disalah satu Universitas Negeri di Malang. Dimata teman-temanakudikenalanak yang ceria, fun danhumoris, namun dengan masalah yang sedang hadapi belakangan ini perlahan keceriaanku itu mulai meredup.

            Dilembaran pertama aku menemukan cerita yang cukup menyayat hatiku, awal januari hubunganku dengan pacarku sedang kurang baik sebut saja namanya Barry, hubungan kami sudah terjalin kurang lebih selama 6 tahun karena jarak membuat kami jarang ketemu Karena itu juga hubungan kami sering putus nyambung, dan kali ini ada satu masalah diantara kami yang belum bisa kami selesaikan nanti dihalaman berikutnya kalian akan tau tentang permasalahan kami. Walau berat aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakan permasalahan kami, aku terus berjala nuntuk melalui semuanya dengan menyibukkan diri melakukan segala hal mulai dari kerja ditengah waktu senggang kuliah  sampai menghabiskan waktu diperpustakaan untuk membaca buku. Waktu terus berlalu aku menjalani hari-hariku seperti dulu bercanda dengan teman-teman walau hubunganku dengan pacarku tak jelas arahnya. Tak terasa Ujian Akhir semester semakin dekat saja ditambah dengan Tugas Akhir yang dikejar deadline membuat aku semakin ekstra memeras otak agar semuanya bisa selesai tepat waktu. Dengan kesibukkanku itu sejenak aku bisa melupakan dirinya.

Dilembaran kedua inilah saat dimana kesedihanku di mulai, pagi itu selesai jam kuliah pertama tiba-tiba aku mendapat kabar dari saudara sepupuku tentang keadaan bapak yang katanya semakin kritis dan ingin sekali aku pulang, ya… bapak memang cukup lama  sakit penyakit sroke yang mengerogoti bapak selama 2 tahun ini membuat tubuh bapak kian hari kian lemah, tapi tak pernah sekalipun bapak mengeluh dan perasaankupun tak pernah sebimbang ini ketika mendapat kabar tentang bapak. Setelah mendapat kabar yang membuat hatiku semakin cema situ, aku bergegas pulang aku minta izin ke Dosen kalau jam kedua ini aku tidak ikut kuliah, selama perjalanan perasaan tak karuan semakin menyeruak masuk kereluh hatiku aku mencoba mengisi pikiranku dengan angan-angan tentang bapak yang sebentar lagi akan sembuh dan tiap kali aku pulang bapak akan selalu memberikan nasehat-nasehat bijaknya. Kurang lebih lima jam aku menempuh perjalanan akhirnya aku sampai dirumah ba’da maghrib, aku mempercepat langkahku perasaan ingin segera mencium tangan bapak sungguh amat besar, sesampai didalam aku  takbisa berkata apapun tubuhku serasa lemah dan kaku saat aku melihat bapak sudah terbujur tak bernyawa dengan penuh susah payah aku mengucapkah “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” tangisku pecah, lolongan panjang menyayat hati. Aku tak percaya kalau secepat bapak meninggalkan aku dan ibu, tepat 7 Mei 2013 Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Kehilangan bapak adalah hal amat berat dan menyedihkan buat aku dan ibu, tetapi mungkin ini yang terbaik untuk bapak sekarang aku hanya hidup berdua saja dengan ibu. Satu hari setelah kepergian bapak aku mendapat ucapan turut berduka cita dan doa dari pacarku Barry awalnya aku senang dan aku sempat berfikir dia ada untuk aku saat aku sedih seperti ini, tapi kesenagan itu tak lama dan berubah dengan berita kepedihan setelah memberikan ucapan dukanya dia juga memberikan kabar kalau bulan depan dia akan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya, seperti yang sudah aku bilang dihalaman sebelumnya bahwa beberapa bulan yang lalu hubunganku dengan pacarku kurang harmonis, aku sempat mendengar tenteng berita perjodohan dia, aku pikir kami masih bisa mempertahankan hubungan yang sudah terjalin amat lama ini, tapi itu semua hanya perkiraanku saja dan dia lebih memilih wanita pilihan orang tuanya, cukup lama hubungan kami gantung ternyata inilah jawabannya. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa selain memberikan selamat untuk pacarku yang tak lama lagi akan menjadi suami orang lain, saat itu aku merasa dunia akan kiamat mungkin semua isi bumi sedang menghantamku sampai aku tak tau harus bergerak ke arah mana dalam hati aku meronta, belum kering air mataku karena kehilangan bapak dan sekarang aku harus melepaskan orang yang selama ini mengisi kekosongan hatiku orang yang amat aku cintai. Tujuh hari berlalu aku kembali ke kampus berat dan tak tega rasanya meninggalkan ibu sendirian, tapi apa mau dikata Ujian sudah menungguku sejak satu minggu yang lalu, dengan sisa-sisa kekuatan yang aku miliki berusaha menata kembali puing-puing kehancuran dihatiku walau mata terasa perih karena menahan air mata yang ingin tumpah dipelupuk mata, di depan sanaaku melihat ada teman-teman yang menunggu kedatanganku mereka memelukku dan berkata “ mbak yang sabar yaa” itu kata-kata yang amat biasa, namun bisa memberiku energi yang luar biasa untuk melawan kepedihan dihatiku. Bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari keterpurakanku, namun terus meratapi kesedihan juga tentu akan menyiksa diri sendiri, seiring berjalannya waktu aku bisa melalui masa-masa suramku aku terus berjalan tanpa ingin menoleh kebelakang. Dan puji syukur Ujian sudah selesai tinggal satu lagi penusunan Tugas Akhir yang harus segera aku selesaikan sebagai penentu kelulusanku. Empat puluh hari setelah bapak meninggalkan aku dan ibu aku sempatkan diri pulang untuk mempersiapkan empat puluh hariannnya bapak, dan dihari itu juga aku mendapat kabar dari sahabatku bahwa Barry yang sudah resmi berstatus mantan pacarkuakan melangsungkan pernikahan hari itu juga, aku tak tau mesti bahagia atau sedih saat aku sibuk mempersiapkan empat puluh harinya bapak sementara dia disana bahagia dengan wanita masa depannya, aku merasa ini sungguh tak adil, tapi sudahlah mungkin dengan cara seperti ini Tuhan memisahkan aku dengan dia dan dengan cara seperti ini juga Tuhan akan mempertemukan aku dengan orang terbaik pilihannya. Beberapa bulan kemudian tepatnya 15 Juli 2013 aku menjalani Ujian Tugas Akhir dan sebentar lagi status mahasiswa akan segera aku tanggalkan, dan tak hanya itu kabar yang cukup membajhagiaan juga datang menghampiriku aku dihari itu juga aku diterima kerja disalah satu perusahaan swasta di Surabaya, sambil menunggu waktu wisuda aku menjalani pekerjaanku. Tiba saat wisuda 12 Sepetember 2013 ada sesuatu yang kurang dalam wisudaku tak seperti teman-teman yang datang dengan dengan orang tuanya kali ini tak ada satu keluargaku yang bisa hadir di hari bersejarah bagiku, tetapi aku memaklumi terlebih keadaan ibu hanya sahabat-sahabat baikku yang hadir sebagai wakil dari orang tuaku, sempat meneteskan air mata karena ingat sosok bapak andai bapak ada disini pasti beliau bahagia melihatku diwisuda, namun itu tidak menyurutkan kebahagiaanku aku tetap bersyukur ada sahabat yang masih menemaniku.

            inilah lembaran skenarioku sepanjang tahun 2013 ini penuh dengan air mata, tapi aku percaya dibalik air mata Tuhan menyimpan kebahagiaan untukku, dulu aku bertanya kenapa Tuhan memberikan cobaan ini padaku tapi sekarang aku berterima kasih pada Tuhan atas cobaan-Nya karena dengan cobaan itu menjadikan aku orang lebih bertawakal dan ikhlas atas segala ketentuan-Nya, lebih bersyukur atas apa yang sudah diberikan.

Advertisements

A Letter From Allah

Standard

Saat kau bagun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan “berbicara” kepada –Ku walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku ataupun bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam kehidupanmu hari ini atau kemarin. Tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja. Aku kembali menanti saat kau bersiap. Aku tahu, akan ada sedikit waktu bagimu untuk “menyapa”-Ku. Tetapi juga engkau masih terlalu sibuk.

            Disuatu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama limabelas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian, Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir, mungkin engkau akan “berbicara” kepada-Ku, tetapi engkau malah berlari ke telepon dan berbicara dengan seorang teman tenteng gosip-gosip terbaru.

            Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, aku berpikir, engkau terlalu sibuk untuk “mengucapkan” sesuatu kepada-Ku.

            Sebelum makan siang, aku melihatmu memandang sekeliling. Mungkin engkau merasa malu untuk “berbicara” kepada-Ku, itulah mengapa engkau tidak menunudukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja di sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama-Ku dengan lembut sebelum menyantap rizki yang Aku berikan. Tapi engkau tidak melakukannya.

            Yah, tak apa. Masih ada waktu yang tersisa dan aku berharap ada waktu “berbicara” kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang kerumah, kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

            Setelah tugasmu selesai, engkau malah menyalakan tv, entah apa yang kau suka nemonton atau tidak. Hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya tanpa memikirkan apapun. Hanya menikamti acara yang ditampilakan. Kembali Aku menanti saat engkau menonton tv dan menikmati makananmu. Tetapi kembali engkau tidak “berbicara” kepada-Ku

            Saat tidur, Aku berpikir kau terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu.engkau melompat ke tempat tidur dan terlelap tanpa sepatah katapun menyebut nama-Ku. Tidak apa-apa, mungkin engkau tidak menyadari bahwa aku selalu hadir untukmu.

            Aku bersabar terlalu lama dari yang engkau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar kepada orang lain. Aku sangat menyayangimu. Setiap hari Aku menanti sepatah kata, do’a, pikiran, atau syukur dari hatimu.

            Baiklah engkau bangun kembali dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan mempunyai sedikit waktu untuk “menyapa”-Ku. Tapi, yang Kutunggu-tunggu tak jua datang. Kau tak pernah menyapa-Ku … Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan shubuh lagi. Kau jua masih mengacuhkan Aku.

            Tak ada sepatah kata. Tak ada seucap do’a. Dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-Ku.

            Apa salah-Ku kepadamu?

            Rizki yang Kulimpahkan, kesehatan yang Kuberikan, harta yang Kuamanatkan, makanan yang Kuhidangkan, apakah itu tidak membuatmu ingat kepada-Ku?

            Percayalah, Aku selalu mengasihimu dan akuberharap suatu saat kau akan “menyapa”-Ku, memohon perlindungan-Ku, bersujud menghadap-Ku yang selalu menyertaimu setiap saat … Allah Swt.

Goodbye Ayah ( Cerpen )

Standard

“ Tut,tut,tut.” Bunyi satu pesan dari Hp ku, tangan ku segera meraih HP yang kusimpan dalam saku celana. Kudapati satu pesan dari kakak sepupuku “ Dik nanti selesai kuliah tolong sempatin pulang ya Bapak ingin ketemu sama kamu.” Sontak seluruh aliran darah ini mengalir ke seluruh urat nadiku.

 Aku membalas sms kakak sepupuku “ Bapak kenapa mas??.” 

“ nggak apa-apa, sempetin pulang ya!”

“ aku pulanganya jam 2 an mas, ini ada kuliah tambahan, nggak apa kah?”

“ nggak apa-apa yang penting kamu pulang.”

Perasaan tak enak merasuk dalam dadaku, beribu tanya hinggap dalam kepalaku apa yang terjadi sama Bapak? Apa Bapak kritis.? Dengan penuh harap aku berdoa semoga semua baik-baik saja, mungkin Bapak hanya kangen sama aku jadi Bapak ingin aku pulang.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menguatkan hati dan mengisi pikiran dengan pikiran yang positif, aku mencari Hp ku kembali untuk meminta izin sama Leader tempat dimana aku bekerja dan biasa aku panggil Mamy.

“ Hallo, Mamy.”

“ Iya Lia, ada apa sayang” demikian Mamy menjawab sapaku.

“ Mam Lia mau izin Mam, hari ini Lia nggak bisa masuk kerja barusan dapat kabar kalau Bapak sakit jadi Lia harus pulang Mam, maaf Mam nggak apa-apa kan? “

“ Berapa lama sayang, sekarang Lia dimana?”

“ Berapa lamanya belum tau Mam, tapi Lia usahkan secepatnya balik lagi ke kantor, ini sekarang Lia masi di kampus.”

“ Oh gitu, terus kapan mau pulang?”

“ Habis kuliah Mam, ini ada kuliah tambahan soalnya.”

“ Oh ya sudah nggak apa-apa, hati-hati dijalan ya Lia salam buat Bapak sama Ibu, semoga Bapak cepat sembuh”

“ Iya Mamy terima kasih.”

Aku beranjak ke Lab 1 kalau jam kosong gini biasanya dimanfaatkan anak-anak untuk sekadar menjelajahi dunia maya dengan memakai Wifi gratis di kampus, sambil nunggu dosen datang mungkin aku bisa sejenak menghilangkan kebimbangan yang tadi menyelimuti hatiku, apa lagi disana juga ada teman-teman.

Tepat jam 12 Hp ku kembali berdering kali ini deringan Hp ku seperti tak sabar ingin aku segera mengangkat telepon. Aku mendapati panggilan dari kakak sepupuku lagi, dadaku semakin sesak aliran darahku semakin memuncak naik ke urat sarafku.

“ Hallo Mas, kenapa?”

“ Dik, kamu pulang sekarang aja ya, Bapak kritis pengen baget ketemu sama kamu, kamu izin aja kuliahnya ya”

Aku sudah tak bisa mengelak dan berkata panjang “ iya mas aku pulang sekarang.”

Perlahan mataku terasa perih untuk menahan air mata, aku pun tak mengindahkan pertanyaan teman-teman yang terheran dengan perubahan raut wajahku, aku juga tak perduli walau Dosen yang dari tadi aku tunggu ada di depan mataku sekarang, yang jelas aku ingin segera lari dari sini.

“  Pak maaf saya mau izin hari ini saya nggak bisa ikut mata kuliah Bapak” aku membuka suara untuk meminta izin ke Dosen.

“ Loh, kenapa? Kita baru aja mau masuk”

“ Iya pak maaf, tapi saya harus segera pulang, barusan dapat kabar Bapak saya sedang kritis jadi saya harus pulang pak”

“ Oh gitu, ya sudah kamu hati-hati  dijalan ya”

“ Iya pak terima kasih.”

Aku lalu mengahampiri sahabatku jaya.” Jay tolong anterin aku ke terminal sebentar aku mau pulang ”

“ Haah pulang, sekarang?? Kan Dosennya uda datang?!”

“ aku uda izin jay, Bapak kritis aku harus pulang sekarang’

“ Ok,ok aku ambil motor bentar, tunggu disini ya.”

Tak lama kemudian jaya temanku sudah berdiri di depanku dengan motor andalan yang selama ini menemani perjalanannya. Tak mau membuang waktu aku langsung melesat naik bus, kurang lebih lima jam aku akan memempuh perjalanan, selama dalam perjalanan lagi-lagi hatiku kalut aku berusaha untuk tidak berfikir macam-macam aku berusaha keras untuk memenuhi pikiranku dengan pikiran yang positif, mencoba membuka memori lama tentang kebersamaanku dengan Bapak saat aku masih kecil sampai, saat Bapak memberikan nasehat-nasehat bagaimana untuk menghadapi hidup yang membolak-balikkan perasaan kita bahkan iman kita, sampai saat aku berpamitan dan mencium tangan Bapak satu bulan yang lalu.

Sekian lama aku mempuh perjalanan akhirnya aku sampai diterminal, dari kejauhan aku melihat paman  laki-laki paruh baya ini ternyata sudah menungguku dari tadi menunggu kedatanganku, aku langsung menghampiri beliau.

“ Kok lama nduk? Tanya paman

“ Iya paman tadi jalanan macet banget” jawabku

Hari sudah mulai gelap, gema adzan maghrib mengiringi perjalanku dengan paman menuju rumah, selama perjalanan Paman tak magatakan apa-apa sepertiya Paman tak ingin menambah kecemasan yang dari tadi mengganggu hatiku.

Tak berapa lam kemudian aku sampai dirumah, kedatanganku disambut oleh Bibi, aku segera turun dari motor dan terus melangkah aku sudah tak sabar ingin mencium tangan Bapak dan berbincang dengannya seperti yang dulu selalu aku lakukan saat pulang kampung aku pasti meyempatkan diri untuk berbincang dengan Bapak sekedar bercerita tentang keadaanku dikota orang. Namun tak tau kenapa kali ini langkahku terasa berat saat kaki ini memasuki kamar, disana sudah ada Ibu dan Bude yang meneteskan air mata aku masih berharap tak terjadi apa-apa, namun harapanku seketika lenyap saat aku melihat Bapak sudah terbujur tak bernyawa.

“ Nduk Bapak uda nggak ada” Ibu menjawab pertanyaan yang dari tadi hinggap dalam kepalaku. Dengan penuh susah payah aku mengucapkan sesuatu “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” tangisku pecah, lolongan panjang menyayat hati. Bude segera memelukku. Aku menagis dan berteriak  histeris memanggil nama Bapak lalu menggemparkan seluruh rumah dan menyita perhatian semua tetangga. Aku tak percaya kalau aku akan kehilangan Bapak secepat ini tepat 7 Mei 2013 Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.

Tak berapa lama rumahku sudah dikerumunin orang, sedangkan keadaanku kacau balau semua orang iba dengan keadaanku satu dari mereka memberikan aku segelas air.

“ yang sabar nduk doakan Bapak ya”. Bude berusaha menenangkakku, sementara ibu dengan sekuat tenaga masih berada disamping Bapak, aku menghampiri jenazah Bapak dan meraih tangannya lalu mencium tangan Bapak ini adalah terakhir kalinya aku mencium tangan Bapak, sedih, sesal mulai menyelinap dalam hati seolah menambah panjang luka sayatan oleh perginya Bapak. Aku amat menyesal di detik-detik terakhir aku tak berada disamping Bapak. aku mulai berandai-andai, andaikan tadi aku langsung pulang saat kakak sepupuku memberikan kabar itu bahwa Bapak sudah ingin sekali bertemu denganku mungkin aku masih bisa menuntun Bapak ketika kematian menjemputnya, tapi tak ada gunanya semua sudah terjadi andai-andaiku ini tak akan membalikkan keadaan. Aku segera mengambil air wudlu saat aku teringat aku belum menuaikan sholat maghrib mungki dengan aku mengadukan kesedihanku bisa memimalisir sayatan hati.

Dengan suara gemetar dan berderai airmata aku melantunkan ayat-ayat suci disamping persemayaman Bapak, hanya ini yang bisa aku berikan untuk Bapak sebagai wujud baktiku. Bapak yang mengajariku tentang kesabaran, selalu ingin aku menjadi anak yang Qona’ah terus mensyukuri  atas apa yang diberikan Tuhan, terus berusaha untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan, namun satu yang tidak Bapak ajarkan bagaimana cara manahan rinduku untuknya? Tanyaku menuntut, raga bapak memang telah pergi namun kenangan bersama beliau telah berkarang dihati, kini hanya untaian doa yang bisa aku persembahkan untuk bapak dalam setiap hamparan sajadahku.

 

 Gambar

 

 

AKU MANGAGUMIMU DALAM DIAM

Standard

Menjelang pagi. Titik-titik embun masih menempel lekat dikaca jendela kamarku. Udara yang begitu dingin memeluk erat tubuh ini. Rasanya aku masih ingin berada dalam selimut hangat ini untuk menghindari udara yang dingin pagi ini. Jujur aku paling tidak suka bangun pagi, terlebih kalau hari senin. Huufftt…. hari senin bukanlah hari yang paling aku nantikan, dimana hari senin adalah hari semua orang memulai aktivitas. Dan itu adalah penyakit bagi aku yang tidak menyukai hari senin.

Aku terbangun bukan karena bunyi alarm yang memenuhi kamarku, bukan juga Dia teman satu kamar  si Miss lelet yang aku beri tugas membangunkanku tiap hari, tapi aku terbangun karena volume suara kerasnya Novia yang menggemparkan seluruh penghuni kost, aku sering berkata dalam hati, “ Novi pliss tolong kecilkan suaramu sedikit aja oke, ” tak hanya Novia ada juga eka  yaaa… mereka ini bak Duo Maya yang sedang mengadakan konser dikosan, suara mereka acap kali membangunkanku bahkan sering mengganggu aktivitas tidur lelapku. Tapi walau begitu mereka ini adalah teman yang unyu dan unik Novia yang menggemari penyanyi dangdut Ayu ting-ting namun agak lemot bila diajak ngobrol, dan eka si alay yang tiap hari menirukan gaya artis korea mulai dari Super Junior, Super Star, Super Semar atau apalah itu aku gak faham. Oh iya kenalkan namaku Aulia aku kuliah di salah satu Universitas Negeri di Malang, di keluargaku aku adalah anak yang paliiiing disayang, ya iyalah secara aku anak semata wayang jadi kalau ngga sayang ke aku ke siapa lagi. Saat ini aku tinggal dikost bersama sepuluh cewek-cewek cantik yang berasal dari berbagai penjuru daerah, itu sebabnya kita memberikan nama kost tercinta kita dengan mana kos cantik hehehe..!!. Ada pepatah yang bilang tak kenal maka tak sayang oleh sebab itu aku akan memperkenalkan satu per satu penghuni kost cantik, kalau tadi aku sudah ngenalin Dia teman satu kamarku, dan si Duo Maya Novia dan Eka sekarang aku bakal kenalin tujuh cewek yang dijamin ngga kalah gilanya, yang pertama adalah Ayu Purple itu nama bekennya di facebook dia adalah penghuni paling senior di kost ini, itu sebabnya dia diberi jabatan sebagai kepala suku dikost, dalam hidupnya dia sering kali melemah oleh suatu hal yang ngga tau sebab musababnya, kemudian ada Vita dia senior kedua setelah Ayu Purple jabatannya sebagai bendahara yang biasa mengatur operasional kost, dia selalu mendambakan pria yang setia, sholeh dan ganteng seperti Indra Sinaga vocalis Band Lyla itu tau kan, sebenarnya aku ingin sih merekomendasikan Vita ini ke tetanggaku namanya sholeh kan dia suka yang sholeh-sholeh tuh kali aja mau gitu sama tentanggaku sholeh hehehe..!!!, oke lalu ada Balgis cewek asal Palu ini paling betah kalau dikamar sambil mantengin laptop muter lagu-lagu korea itu juga kegemarannya, selanjutnya ada Melati cewek berambut merah ini memang sedikit pikun selalu lupa kalau naruh barangnya sendiri tapi cukup kreatis paling bisa kalau menciptakan fokeb baru yang ngehits di kost, siapa lagi yah??!!. Oh iya Dilla, Dilla ini hari-harinya selalu disibukkan dan dipenuhi dengan tugas-tugas kuliah gak heran kalau uda ngerjain tugas dia betah berjam-jam didepan buku, yang terakhir ada Diha dia penguhuni baru demen juga kalau bersemedi di kamar entah sekedar istirahat atau ngerjain tugas kalau ngga lagi laper dia gak bakal keluar kamar.

***

             Hari ini adalah hari pertama disemester baru aku kuliah pukul 07.00, aku bersigap dari tempat pembaringanku semalaman ini dan melesat ke kamar mandi sebelum aku mendapat nomor urut tujuh untuk mengantri kamar mandi, huft… secepat apapun aku melangkahkan kaki tetap saja aku harus mengantri.

Beberapa saat kemudian aku sudah siap untuk meluncur ke kampus, sesampai di kampus aku berjalan sesekali mencari tanda-tanda kehidupan teman-temanku disepanjang koridor, ternyata gak ada satupun teman yang aku temui, gilaa… hari pertaman masuk kuliah aku telat ini gara-gara antrian nomor kamar mandi nihh aku telat, aku segera mencari kelas untuk kuliah jam pertama ini dan ternyata kelasnya ada di ruang dua, perlahan aku mulai ketok pintu berharap tidak bertemu dosen yang menyeramkan sehingga aku diperintah untuk balik pulang lagi, “tok!!!tok!!!tok!!!…, suara ketokkan pintu

Saat pintu kubuka kaki kanan kulangkahkan lebih dulu tak beberapa lama kaki kiriku mengikuti, tiba didalam kelas pandanganku tertuju pada pria berkacamata yang ada didepan kelas, angin semilir masuk melalui ventilasi jendela kelas memasungku dalam lamunan penuh kesejukkan sejenak aku tertegun dengan apa yang aku lihat “ aku gak salah masuk kan?! ” aku bertanya pada diriku sendiri seolah menegaskan bahwa ini adalah kelas kuliahku bukan ruang tunggu Afgan yang menanti waktu untuk perfom dalam sebuah konser,” gila ganteng banget, nih cowok siapa? Apakah dia mahasiswa juga? “, hatiku dihinggapi beribu pertanyaan.

“ Silahkan duduk ” suara lembut itu membuyarkan lamunanku, “ oh iya maaf telat ”,” iya gak apa-apa”, aku memandangi seisi ruangan berharap ada satu bangku kosong yang bisa aku duduki dan yess!! Aku dapat, aku duduk tepat disamping temanku yang super gila jaya, yaa…dia adalah temanku yang sama mempunyai tingkat gila amat tinggi, kalau aku sudah bercanda sama dia hemm…dunia ini bisa hancur akibat ulah kami, “ sorry telat “,

“ hahh telat?!telat berapa bulan? “, “ maksud L? “,” katanya telat, telat berapa bulan “,” heh maksudku tuh telat masuk “,” ooh kirain telat yang lain, kalau ngomong yang jelas donk, jangan bikin saya jadi ambigu saja “,” emang dasar otak kamu aja yang jorok “,” uda dari tadi ya musuknya?”,” gak kok baru juga dimulai “,” ooh,eh itu dosennya?”,” iya!!”,” serius…..!!! wahh kalau dosennya kayak gini biarpun kuliahnya tiga jam mah aku juga betah, pintar juga pak Nasution mencarikan dosen yang bening-bening gini tau aja selera anak muda “,” stres “ guman jaya “ apa kamu bilang? ”,” gak, gak apa-apa “,” eh kita berdua itu sama-sama stres, pernah masuk rumah sakit jiwa bareng,sembuh juga bareng jadi jangan menganggap kalau kamu yang paling waras, huft…ngajak ribut “,”oke ampun-ampun saya tidak akan mengulanginya lagi “, “ ehemm-ehem, maaf itu mbak yang baru datang minta tolong minta perhatiannya ya!”,” oh iya pak maaf “ akhirnya suara lembut itu mengakhiri kericuhanku dengan si gila jaya, karena aku masih penasaran dengan siapa nama dari pemilik wajah rupawan itu, aku memberanikan diri untuk bertanya,” oh iya pak, bapak kan belum memperkenalkan diri “,” tadi saya sudah memperkanalkan diri “, sumpah bahasanya yang amat sopan membuat hatiku hanyut kealiran sungai amat dalam, “ kan sama yang lain pak, sama saya belum pepatah bilang tak kenal maka tak sayang jadi kalau bapak ingin saya menyayangi bapak, oops maksud saya menyayangi mata kuliah bapak, bapak harus memperkenalkan diri lagi ke saya “, seisi kelas memandangiku dengan mimik terheran atas kelakuanku, “ dasar cewek gila “, terdengar suara sedikit sayup diseberang sana, suara Nita, temanku ini juga mempunyai keterbelakangan jiwa seperti aku tapi dia masih dalam tahap normal. Dengan penuh kesabaran akhirnya bapak dosen muda yang ganteng itu mau memperkenalkan diri, hemm… gak cocok deh kalau aku panggil pak yang aku lihat dia masih muda banget panggilan yang lebih cocok untuknya adalah mas dosen yang ganteng.

“ baik, perkenalkan nama saya Denni Pramayoga boleh panggil saya Denni atau Yoga alumnus Brawidjaya, angkatan 2007 komunikasi public relations disini saya akan mengajar mata kuliah dasar-dasar public relations “, seolah tidak puas dengan perkenalan mas dosen ganteng itu saya masih bertanya, “asalnya mana pak, eh mas? “, “ saya asli probolinggo, ada lagi yang ditanyakan? “, “ oh gak mas cukup terima kasih “,” baik kalau ngga ada kuliah kita lanjutkan “, mendengar nama Brawidjaya sama tahun 2007 aku jadi teringat sama temanku Dixon yang kebetulan juga kuliah di universitas yang sama dan jurusan yang sama, dalam hati aku berguman “ hehe boleh nih kalau aku sedikit mengorek info dari Dixon soal mas dosen ganteng ini ”.

***

Tak sabar ingin tau tentang mas dosen ganteng pulang kuliah aku langsung menemui Dixon, Dixon ini adalah penyiar radio dimalang yang cukup beken fensnya banyak banget, kebetulan hari ini dia ada siaran siang jadi aku bisa langsung ketemu dia distudio. “ hai Dixon uda selesai nih siarannya? “, senyum mengembang Dixon menyambut kedatanganku di studio “hai Aul uda baru aja kelar, entar jam enam siaran lagi gantiin temen, kamu dari mana lecek banget tuh muka? “,” iya nih aku baru pulang kuliah terus kesini, kamu uda makan belum nih aku bawa siomay dua bungkus kita makan bareng yukk “,” wah..! tau aja kamu kalau aku lagi kelaparan “, beberapa saat kemudian kita menikmati makan siang yang agak telat ini, sebelum aku mengajukan pertanyaan aku membiarkan temanku ini menghabiskan siomaynya dari pada nanti tersendak akibat makan sambil ngomong. Selesai makan dia yang memulai pembicaraan, “ kamu tumben pulang kuliah langsung kesini, gak sms dulu lagi biasanya kamu sms atau telepon dulu kalau mau kesini “,” emm ngga apa-apa tadi pas aku dengerin radio yang ada suara kamu jadi ya uda aku langsung kesini aja “,” ooh, beneran? “,” iya beneran “, sepertinya dia mempunyai firasat atas kedatanganku yang begitu tiba-tiba kali ini, aku mulai membuka topik pembicaraan kembali. “ emm Dixon aku boleh tanya ngga? ”,“ gak boleh“,” iihhhh kamu ini nyebelin banget sih mau tanya gitu aja gak boleh, ya uda ngga jadi tanya “,” bhahha… ngambek?! “,” habisnya mau tanya dikit aja gak boleh pelit banget “,”    hahaha..! lagian kamu mau tanya aja pake izin segala, emang mau tanya apa sih?“,”gini kamu kenal gak sama yang namanya Denni?“,”Denni?! Denni Pramayoga?“,”yup bener banget, kamu kenal sama dia? “,” ya kenal lah kita kan satu kelas, satu jurusan, dulu waktu ospek kita juga satu kelompok, kamu kenal juga sama Denni? “,” iya aku baru mengenalnya tadi, dia loo dosenku “,” hah masak sih denni jadi dosen wah hebat ya dia, aku aja belum lulus dia uda jadi dosen”,” hemm ganteng ya dia, eh dia itu tipekal orang gimana? “,”  emm dia tuh anaknya pinter, aktif di oragnisasi, baik, kok kamu jadi pengen tau tentang dia hayooo jangan-jangan kamu naksir lagi sama Denni, hayoo ngaku?! “ hih gak aku kan Cuma pengen tau aja, berarti dia kenal juga donk sama Ivan, sama mbak Uli? “,” ya kenal lah kan satu kelas juga”,” uda punya pacar belum?”,” hahaha dasar kau Aul “,” hiih aku kan Cuma tanya Dixon”,” selama aku kenal dan berteman sama Denni aku belum pernah lihat atau dengar dia pacaran “,” oh gitu oke deh thanks ya infonya”, aku berlalu pergi sambil melambaikan tangan dengan hati yang diselimuti rasa puas telah berhasil mendapatkan info tentang mas dosen ganteng itu, yess belum punya pacar boleh nih hihihi..!!” eeh  Aul kamu mau kemana datang, pergi gitu aja awas lo ya “.

***

            Di hari senin pertemuan kedua disemester baru ini, tak seperti biasanya aku bangun dengan kaki yang berat, pagi ini sepertinya aku mendapat energi baru dalam diri aku, aku bergegas mandi dan cepat-cepat berangkat kekampus, hari ini adalah kuliahnya mas dosen ganteng aku tak ingin menambah deretan panjang lagi tentang citra diriku yang kerap kali telat datang ke kampus, beberapa menit kemudian, Taraa…!! pengeran yang aku nantikan akhirnya menampakkan diri, aku mancari tempat duduk dibarisan paling depan agar bisa lebih seksama memandang wajah penuh keteduhan itu. Tiba-tiba brakk!! Si gila jaya datang dan duduk tepat disebelahku,” hai coy tumben banget gak telat “,” kamu mengaharapkan aku datang telat lagi, ya uda kalau gitu sekarang aku bakal balik lagi ke kost dan berjalan ala siput atau kura-kura biar aku telat “,”ooo santai coy sensi banget lagi dapet ya buk”,” uda diam kuliah mau dimulai “,” kamu gak salah minum obat kan mbak “,”ngajak ribut?“,” oke santai-santai “. Selama perkuliahan berlangsung aku hampir tak memperhatikan teori yang disampaikan mas dosen ganteng seluruh perhatianku tertuju pada makhluk Tuhan paling sempurna ini, jika mas denni adalah sebagian kecil dari seperempat ketampanan yang dimiliki nabi muhammad lalu seperti apa nabi yusuf yang kata para pak ustadz ketampanan nabi yusuf ibarat buah semangka yang dibelah menjadi dua yang separuh semangka itu hanya untuk ketampanan nabi yusuf, subhanallah, oke cukup tausiahnya!. Selesai kuliah langit terlihat tak bersahabat dengan kita cuaca mulia mendung, pagi-pagi gini uda mau hujan saja, dan benar saja selang beberapa menit kemudian langit tak mampu lagi membendung derasnya air dibalik awan, jadi inget lagunya peterpan, akhirnya kita terjebak hujan dikelas sebagian teman ada yang berteduh didepan kelas, sebagian ada yang berlari nekat menyusuri rintikan hujan, dan aku tetap didalam kelas, pucuk dicinta ulampun tiba alam semesta mendukung atas keinginan hati kecilku hujan ini memang membawa berkah buat aku, dikesempatan ini aku bisa berdua dua dalam kelas bersama mas dosen ganteng, tentu aku tak ingin waktu ini terlewati tanpa kesan. Didalam kelas aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan mas denni ganteng, “ mas”, aku memecahkan keheningan, “ iya dek kenapa?”, apaahh dia panggil aku dek, “ mau tanya”,” tanya apa?”, ya Tuhan tutur kata yang amat lembut seolah melumpuhkan persendian dalam tubuhku, “ mas denni kenal sama Dixon?”,” emm Dixon Saragi? ”, mata kita mulai saling bertemu pandangannya begitu tenang, tak ingin aku pingsan ditempat karena tak kuasa melihat pandangannya aku menundukkan kepalaku saat berbicara dengannya, “ iya mas Dixon Saragi dia satu universitas kan sama mas Denni? “,” iya kok adek kenal sama Dixon?”, “ iya aku kenal dia diradio, dulunya sih sering dengerin dia kalau lagi siaran karena saking seringnya jadi kita akrab terus kita ketemu deh”,”oh iya sering ketemu sama dia, gimana kabar dia sekarang uda lulus belum ya? ”,” tinggal sidang katanya mas”,” wahh salam ya buat Dixon ”,” iya nanti kalau ketemu aku sampaikan, berarti mas Denni kenal juga donk sama Ivan, sama Mbak Uli? ”,” iya kita semua satu kelas kamu kenal sama mereka juga? ”,” kan mereka satu habitat mas “,” bisa aja..”, senyum tipis menghiasi wajah manis mas Denni, sejenak kami larut dalam perbincangan tak terasa hujan mulai reda, andaikan hujan ini bisa lebih lama lagi tapi tak apalah hari ini merupakan hari yang amat bersejarah bagiku, dari perbincangan itu kita mulai mengenal satu sama lain kita mulai akrab, aku sedikit bercerita tentang diriku demikian juga dengan mas Denni ganteng, hemm aku bahagiaaa… banget!! serasa melayang membelah langit hingga sampai pada lapisan ketujuh.

***

            Kehadiran mas Denni memberika atmosfir baru dalam hidupku aku, dia bagai matahari yang terbit menyinari hatiku yang redup walau aku bukan siapa-siapa baginya tapi bagiku dia spcesial banget, perlahan aku mulai melupakan kegalauan hatiku yang sempat kelam oleh karamnya cinta dimasa lalu, aku semaaaangat banget kuliah terlebih hari senin yang dulu amat aku benci kini senin menjadi hari yang paling aku nanti.

Kring!!kring!!kring…..!!! tangan meraba seluruh ranjang berusaha menemukan hanphone, dengan mata yang masih lengket seperti satu botol lem merekat dimataku, kulihat satu panggilan dari Desy teman satu kelasku, ngapain Desy pagi-pagi gini telphon, dengan suara berat aku mengangkat telphone Desy, “ Hallo Des ada apa? “,”mbak,mbak masi tidur? “,” iya ini kan hari minggu Des ngga ada kuliah kan? “,” iya mbak ini memang hari minggu mau tanya ke mbak Lia, nanti ikut acara talkshow gak mbak “,” oh iya hampir aku lupa Des untung kamu ngingetin, jam berapa acaranya? “,” jam 10.00 mbak “,” kamu ikut gak? “, “kalau mbak Lia ikut aku juga ikut hehehe!”,” aah dasar kau Des, ya uda ikutan yuk! “,”oke mbak entar aku tunggu dikostku ya, jangan lupa mbak dresscoadnya pake kemeja hitam“,”hah hitam?! Ini mau acara Organisasi atau mau ngelayat des?”,” hehe ngga tau mbak ketentuannya gitu “,” oke deh thanks ya, sampai ketemu nanti “.

Jam 9.30 aku uda siap untuk meluncur ke acara taklshow, dari kejauhan aku lihat Desy sudah gelisah melihat jam ditangannya, dia pasti sudah menungguku dari tadi, “ hai Des uda lama ya nunggunya? “,” gak kok mbak belum juga satu jam “,” hehehe sorry Des tadi habis kamu telphon aku tidur lagi“,”dasar kamu ini mbak cewek kok molor terus bangunnya“,” mumpung hari minggu Des, ya uda cap-cus yukk “.

Tiba dicafe kamu berdua segera naik ke lantai dua, karena acara Taklshow Branding akan akan di adakan dilantai dua, acara Talkshow Branding ini di laksanakan oleh Organisasi kita tapi Organisasi Senior dan aku sama Desy adalah anggota  yang Junior mendapat undangan khusus untuk pelaksanaan acara ini, 10 menit sebelum acara dimulai aku sudah melihat beberapa panitia yang masih sibuk melakukan checklist. Datang sosok cewek berambut pendek menyambut kita, “ hai Aulia, hai Desy apa kabar, kalian Cuma berdua aja yang lain gak ikut? “,” hai Ritza, baik kamu sendriri apa kabar, iya kita cuma berdua yang lain lagi ada acara jadinya gak bisa datang “,” oh gitu “. Ritza ini adalah temen satu Oraganisasi Muda sama kita tapi dari Universitas yang berbeda dengan kita. “ ya uda aku tinggal dulu sebentar ya! “,” oke “, kali ini Desy yang menjawab.  Kami segera mancari tempat duduk karena temen-temen dari Universitas lain uda ngumpul jadi kami gabung dengan mereka. Sembari menunggu acara dimulai aku melihat satu per satu sudut cafe, dari kejauhan nampak sosok yang tak asing pria berkacamata, memakai kemeja warna biu langit dengan hiasan dasi garis-garis yang mengikat dikerah kemejanya. Sosok pria itu adalah mas Denni yang ternyata anggota dari Organisasi Senior, Tuhan kau sungguh luar biasa menyusun skenario ini untuk aku dengan mas Denni. “eehh mbak ada mas Denn “, bisik Desy “iya Des aku uda lihat kok“, “ ciieeeee…!! seneng nih mbak lia bisa ketemu mas Denni “,” Desy uda jangan ngledek disini banyak temen-temen malu “, “ tapi seneng kan “, jujur wajahku tersipu malu blush on yang ada dipipiku jadi bertambah merah akibat peretmuan ini. Terlihat mas Denni berjalan menuju ke arah kami dengan senyum tipis yang selalu menghiasi wajah gantengnya, “ haii semua apa kabar nih? “, sapa mas Denni, sementara aku menunduk tak berani menatap matanya. “ hai juga mas Denni “, balas teman-teman serempak, Desy mulai membisiki telingaku  dan berguman, “ nyapanya ke kita kok ngelihatnya ke mbak lia sih?! “,”apa sih Des kamu ini“,”serius mbak mata dia lo tertuju padamu mbak”, “ Desy jangan bikin aku GR “,” aahh mabak Lia ngga percaya”. Tiba-tiba terdengar suara yang sama menyapaku “ hai Aul “, “ hai mas Denni “, dengan nada gemetar aku membalas sapa mas Denni “ kok Cuma berdua aja yang lain kemana? “,” ada keperluan lain mas jadinya gak bisa ikut “,” oh gitu “, aku hanya tersenyum karena seluruh anggota tubuhku beku terpaku oleh sapaan lembut mas Denni.

Akhirnya acara Taklshow pun dimulai, kali ini aku bisa lebih jelas memandangi wajah ganteng mas Denni selain karena duduknya dengan garis horizontal didepanku, mas Denni juga bertindak sebagai moderator dalam Talkshow Branding tersebut. Selama acara berlangsung aku memanfaatkan acara ini untuk mencuri kesempatan melirik mas Denni, dan gak tau kenapa setiap kali aku melirik mas Denni aku selalu ketangkap basah sama dia, ketika aku meliriknya mas Denni juga balik memandang ke arahku dan tersenyum, alhasil yang aku dapatkan hanyalah kemaluan, aku seakan ingin berlari dari rasa malu ini, sementara Desy semakin membabi buta saja meledekku karena diam-diam Desy melihat tingkah anehku dan mas Denni, saling berpandangan dan saling tersipu malu, hemm lebih tepatnya saling memalukan. “ cieee mbak Lia saling curi pandang nih yeee “,” apaan sih des “,” hem aku uda perhatiin kalian dari tadi diam-diam kalian saling curi pandang kan?! “.” Uda aah jangan ngledek terus “. Di tengah acara mas Denni menghampriku, waduuhh jantungku sersa ingin copot saja,” Aul “,” iya mas ”, “ foto yuk “, aku sempat bengong dan berharap telingaku tidak kongslet atas apa yang baru saja aku dengar, “ apa foto mas, kita semua? “,” bukan Aul  aja “, “ hah saya mas?? “, Tuhan aku berharap telingaku dalam keadaan sehat, “ iya kamu “,” berdua sama Desy ya mas “,” ya uda tapi nanti Aul foto sendiri ya “,” iya deh “, berbagai macam pertenyaan menyelinap dalam benakku, apaahh kenapa mas Denni minta fotoku??????.selesai acara aku dan yang lain menikanti makan siang bersama, jam 12.00 bertepatan dengan adzan dzuhur, sebelum menikamati makan siang aku berkeinginan untuk mengisi absen dulu di daftar perintah wajib, karean aku tak tau musholanya dimana akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada waiters di cafe itu. “ mbak mau tanya nih, musholanya dimana ya? “,” oh ini lurus aja mbak, nati belok kiri musholanya ada disitu “,” oh iya makasi mbak “. Saat aku berjalan aku mendengar suara memanggilku, “ Aul “, aku menoleh dan melihat mas Denni berjalan mendekat ke arahku, “ iya mas “,” dek Aul mau kemana? “,” mau dzuhur mas, mas Denni sendiri mau kemana? “,” sama aku juga mau dzuhur, barengan aja “, “ya uda yuk”. Beberapa saat kemudian kita bersiap di dalam mushola, mas Denni menawari untuk berjama’ah tentu saja mas Denni yang jadi imam, aku mengikuti setiap gerak  khusyuk yang dilakukan mas Denni, hari ini adalah hari terindah dalam hidup aku, melaksanakan ibadah dengan orang yang begitu aku kagumi ini suatu kebahagiaan yang tak terlukiskan, lantunan ayat yang terucap memberikan keteduhan dalam hatiku, tak hanya rupawan dan pintar pria yang mengimami ibadahku ini telah membuatku takjub dengan kataatannya, dalam sujud kuselipkan sebuah doa “ Tuhan beri aku pria seperti dia “. Selesai ibadah kami sempat berbincang sebentar. “ deka Aul uda makan? “,” belum mas “,” kok belum?! “,” tadi pas mau makan ingin dzuhur dulu “,” oh gitu, ya uda balik sekarang yuk “. Kami bergegas kembali dan berjalan sejajar menyusuri jalan.

“ iiihh mbak Lia darimana sih aku cariin mbak?! “ suara manja Desy menyambutku “ habis dzuhur Des “, “ mbak ngga makan? “,” iya ini mau makan “,” mbak kita lansung pulang yuk, aku uda ditunggu sama temen buat ngerjain tugas kelompok mbak “,” ya uda habis ini kita cap cus, gak ada acara lagi kan?! “,” gak kok “. Selesai makan aku dan Desy langsung balik sesampai dikost tertengar suara sms memanggil, saat aku membuka terlihat tulisan

Dari mas Denni ganteng “ Dek Aul dimana kok uda gak kelihatan? “

Dengan mata berbinar aku membalas sms mas Denni “ maaf mas aku pulang duluan soalnya Desy ada janji sama temennya “. Berbagai macam bunga saat ini bermekaran dalam hatiku, bertaburan memenuhi sanubari kebahagiaanku.

***

            Hari demi hari disemester ini aku lalui dengan penuh keceriaan, hingga tak tarasa ujian akhir semester sudah menanti, ini adalah semester paling indah dan bersejarah dalam hidupku aku ingin lebih lama mengarungi semester ini, aku ingin waktu berhenti agar aku tak berpisah dengan pria sempurna yang amat aku kagumi, mas Denni. Namun waktu tak bisa berhenti waktu tetaplah berjalan, perasaan gundah mulai merasuk dalam sanubariku, ribuan pertanyaan menghantui pikiranku, apa aku akan bertemu lagi dengan mas Denni, sosok pria yang memberiku warna dalam kehidupanku, tapi tak apalah pertemuan singkat ini meninggalkan kesan yang amat mendalam.

Senin ini hari pertama ujian akhir semester, sesuai jadwal ujian hari pertama ini adalah mata kuliah mas Denni, dan mungkin ini adalah senin terakhir aku bisa menatap mas Denni. Suasana kelas begitu tenang dan hikmat semau teman-teman mengerjakan soal dengan penuh konsentrasi, nampak keseriusan diraut wajah teman-teman, demikian juga dengan aku sejenak aku menghilangkan kepiluan yang akhir-akhir ini hinggap dalam hatiku. Waktu sudah menunjukkan pukul 8.20 tanda bahwa waktu untuk mengerjakan soal sudah selesai, semua teman-teman bergegas mengumpulkan lembar jawaban, semua lembar jawaban sudah terkumpul, mas Denni mulai memecah suasana sunyi dalam kelas. “ baik teman-teman terima kasih untuk hari ini, terima kasih untuk semester ini senang rasanya saya bisa berkenalan dengan teman-teman,bekerjasama dengan teman-teman, maaf kalau selama saya mengajar disemester ini mash banyak kekurangan, dan belum bisa membimbing dengan baik, semoga disemester depan teman-teman bisa mendapat pembimbing yang lebih baik dan saya yakin akan lebih hebat, sukses terus untuk kita semua dan tetap semangat ”. Berbagai macam perasaan bermuara dalam hatiku tapi yang pasti satu perasaan besar yang aku rasakan, sedih. Ya Tuhan mas Denni benar-benar pamit, aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi, sesingkat ini kah pertemuan kita. Tak lama setelah mengucapkan salam perpisahan mas Denni langsung meninggalkan kelas, hanya senyum tipis khasnya yang dia berikan untukku tak tau apa arti dari senyuman itu, aku hanya bisa diam lidahku keluh hanya mampu menatapnya tanpa membalas senyumannya.

Dia keluar dari kelas dan berjalan menjauh, ingin rasanya aku  mengejar langkah kakinya, ingin aku meraih tangannya, namun nyaliku terlalu kecil untuk melakukan itu, saat ini aku hanya terpasung dalam gejolak penuh kata.

izinkan aku menjabat tanganmu, karena aku tak pernah tau apa nanti akan ada salam jumpa lagi, kau tau mas selama ini aku mengagumimu , bertemu denganmu adalah hal terindah dalam hidupku, bisa kenal denganmu adalah kebahagian yang tak bisa kulukiskan, kau telah menyentuh hatiku, kau datang bagai matahari  menerangi hati yang  redup, namun disaat hati redup ini mulai menemukan cahayanya engkau pergi dan meninggalkan pilu di sanubari, hanya senyum penuh kerisauan sebagai isyarat hati yang padam oleh suryamu, terima kasih kau sudah hadir dalam hidupku, kehadiranmu sudah lebih dari cukup walau singkat namun itu amat berarti bagiku, semoga kau  sukses diluar sana, apa yang kau cita-citakan bisa tercapai, aku akan selalu berdoa untukmu sampai jumpa dikehidupan berikutnya aku pasti akan merindukanmu”.

Mas Denni berjalan semakin jauh aku tetap berdiri terpaku melihat dia manusia yang aku kagumi berlalu. Hari senin adalah hari dimana aku bertemu mas Denni dan dihari senin juga aku berpisah dengan dia. Aku segera merebahkan tubuhku dikasur spon kamarku, memejamkan mata, merasakan sisa-sisa sejak dihatiku, segera kuambil buku mencoba menyiratkan segala perasaan melalui goresan pena, kata demi kata kurangka hingga menjadi sebuah kalimat yang melukiskan isi hatiku saat ini.

 

Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu.
Tertegun dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. Dan tertegun pula dalam kesejukan nasehatmu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sesempurna sesuai firman-Nya.
Aku yang mengagumimu dalam diam. Seperti mentari yang menyapa bunga-bunga bermekaran. Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran itu.
Karena aku mengagumi maka. Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa aku tak bertegur sapa lagi denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku.
Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku.
Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. Lebih mulia bagi perasaanku dan perasanmu. izinkan aku mencintaimu dalamn keikhlasan karena aku tak pernah tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku?
Karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah kuasa Tuhan yang menggerakan hatimu untukku.
Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana.
Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. Maka itu lah penderitaan yang sesungguhnya.
Aku yang mencintaimu dari kejauhan. Walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu.
Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Tuhan mengizinkan pertemuan kita kembali. Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Tuhan akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Tuhan akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang membolak-balikan hati hamba-Nya.
“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku”.

 

Artikel Dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan

Standard

Seperti yang kita ketahui teknologi semakin berkembang pesat di era globalisasi seperti ini, banyak teknologi-teknologi canggih yang mempermudah pekerjaan kita. Misal saja handphone, komputer, laptop, bahkan yang baru ramai Ipad, Tablet dll. Sekarang dilengkapi dengan fitur-fitur canggih yang wah bagi kita. Dari hsil perkembangan teknologi tersebut muncul sebuah pertanyaan apakah pengaruh dari kemajuan teknologi bagi kehidupan manusia?

Segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki dua pengaruh, yakni pengaruh positif dan pengaruh negatif, sama halnya dengan pengaruh teknologi, pasti ada pengaruh positif dan negatif tergantung siapa yang menggunakan teknologi tersebut.

 

Dampak positif

Ada banyak sekali dampak positif perkembangan teknologi, salah satu contoh kecil. Jika dulu kita sering tersesat di jalan kita pasti akan bingung dan mencari cara uuntuk bertanya kepada orang, namun dengan perkembangan teknologi saat ini kita bisa memanfaatkan GPS untuk mempermudah mencari lokasi atau kita juga bisa memanfaatkan google maps. Teknologi juga mempunyai dampak baik bagi dunia bisnis di dunia. Sekarang ini sudah banyak pembisnis online bermunculan di dunia maya, orang-orang mulai menjadikan teknologi sebagai sarana bisnis bagi mereka, tidak sedikit diantara mereka yang masih muda namun sudah memperoleh jutaan rupiah tiap bulannya. Itulah sedikit contoh dampak positif perkembangan teknologi di dunia.

 

Dampak negatif

Selain dampak positif, teknologi juga mempunyai dampak negatif, kita mungkin masih ingat dengan maraknya kasus-kasus penipuan di internet yang banyak di bicarakan di berbagai media. Banyak orang yang menyalah gunakan teknologi untuk memperoleh keuntungan dengan cara merugikan orang lain, itu adalah salah satu contoh kecil dan tentunya masih banyak contoh-contoh negatif lain yang merupakan dampak dari teknologi nagi kehidupan, memang semua kembali kepada setiap personal yang memakai dan memanfaatkan teknologi tersebut, sebuah handphone pun bisa berdampak negatif jika sang pemakai salah dalam menggunakannya. Untuk itu sudah menjadi tugas kita untuk memanfaatkan teknologi-teknologi tersebut dengan sebaik-baiknya.

 

Contoh Biografi Pribadi

Standard

TASRIFUL ALIYAH

Lahir di Lamongan pada tanggal 14 Maret 1989. Anak semata           wayang dari pasangan petani M.Tasir dan Jai’iyah, wanita yang menggemari penulis Andrea Hirata ini mengeyam bangku Sekolah Dasar di SD Sukosari Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan pada          lulus tahun 2001, kemudian Ia melanjutkan ke SMP Ma’arif 4 dan di sekolah yang sama juga Ia melanjutkan di Sekolah Kejuruan yakni      SMK Ma’arif NU Mantup dan lulus pada tahun 2004 dan 2007, gadis yang dikenal periang dan pekerja keras ini juga pernah merasakan        ketatnya lingkungan pesantren yang telah memberikannya banyak ilmu agama yang menjadi pegangan hidupnya saat ini, ia juga pernah mencetak prestasi di pesantren Jidarul Mustaqbal yakni menjadi juara membaca al-qur’an dan juara seni kreatif santriwati. Aulia panggilan akrabnya sejak lulus sekolah ia bercita-cita ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di perguruan tinggi, namun minimnya ekonomi keluarga harus memaksa ia mengubur cita-cita itu, sehingga ia memutuskan untuk bekerja, segala pekerjaan pernah ia jalani mulai dari menjadi  Waiters,Kasir,SPG, bahkan Sales Make-Up pun pernah ia geluti demi mempertahankan hidup di kota orang. Segala pekerjaan  ia jalani dengan sepenuh hati dan ikhlas dengan kesabaran hati dan perjuangan yang cukup panjang telah mengantarkan pada kesempatan dan harapan yang selama ini ia pendam, pada tahun 2011 barulah ia bisa melanjutkan jenjang pendidikannya di PBKI Universitas Negeri Malang. Dikampus inilah pribadi yang membenci permusuhan ini  berkutat dengan ilmu Public Relations yang nantinya akan menjadi penentu kesuksesannya, sejuta harapan ia gantungkan di kampus yang di kenal sebagai kampus The Learning Universiti ini peluang kecil selalu ia manfaatkan demi mendapat kesempatan besar, di Public Relations ini ia menemukan jiwanya bertemu dengan orang-orang baru yang tentunya memberi banyak ilmu dan juga kesempatan bagi Zodiak Pisces ini, harapan ia saat ini adalah ia ingin bekerja yang sesuai dengan jiwa yang ia miliki, baginya bekerja tidak hanya menggunakan tenaga dan fikiran melainkan hati, bekerja dengan hati akan menjadikan seseorang bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, dengan hati yang ikhlas akan menjadikan hasil yang di dapatkan menjadi sebuah berkah, dan dengan keberkahan akan menjadikan hidup menjadi tenang dan damai. Harapan besar yang ia taman dalam hatinya saat ini adalah ingin sukses di bidang Event Organizer, announcer, dan menelurkan sebuah buku inspiratif.

Kata mutiara penyejuk hati

Standard

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS

Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR

 

Jika setiap do’a kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR

Seorang yang dekat dengan TUHAN, bukan berarti tidak ada air mata

Seorang yang TAAT pada TUHAN, bukan berarti tidak ada KEKURANGAN

Seorang yang TEKUN berdo’a, bukan berarti tidak ada masa masa SULIT

Biarlah TUHAN yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena TUHAN

TAHU yang tepat untuk memberikan yang TERBAIK

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN

Ketika hatimu terluka sangat dalam……, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN

Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAH – HATIAN

Tetap semangat….Tetap sabar….Tetap tersenyum…..

Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”

Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.

MEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA……

 

Inspirasi by Dahlan Iskhan